Mempertahankan Rasa Sayang Pada Ibadah Kita

Terlepas dari pembahasan yang panjang soal dalil-dalil dan uraian yang butuh penjelasan. Sejatinya penciptaan seorang muslim ialah ia lahir lalu ia mati. Namun bukan soal lahir dan mati. Ada momentum yang menyertai itu semua tentunya. Tahapan yang panjang dan episentrum gerakan yang penuh nilai. Bercampur membaur menjadi satu jalinan yang bisa jadi kebaikan atau kegagalan.

Salah satu dari sekian banyak momentum itu adalah ibadah. Puncak tujuan seseorang diciptakan adalah ibadah. Lihatlah, dalam segala aktivitas kita ada nilai ibadah. Makan dengan niat untuk mencari maisyah adalah ibadah, bercumbu dengan istri untuk terjalin keluarga sakinah adalah ibadah, dan seterusnya.

Sudah seharusnya kita mempertahankan rasa sayang kita kepada energi ibadah yang telah dilakukan. Acapkali kita terjebak dalam kata tanggung dalam sifat yang terkait dengan urusan dunia. Lebih adalah hasil yang selalu ingin diharapkan. Tapi tidak untuk ibadah, lebih banyaknya kita berkurang dan semakin mengurangi. Semestinya kita mempertahankan energi sayang atas ibadah yang telah dilakukan.

Jika Maghrib, Isya’, dan subuh ia lakukan dengan berjamaah, maka iringilah dzuhur dengan ibadah jamaah pula. Maka kelak kita akan menyayangkan ashar yang bila dilakukan dengan sendirian tanpa udzur dan tanpa alasan yang beraroma pepesan.  Sebab ketika putus suatu kebiasaan yang akan dibangun, akan kembali sulitlah kita membangunnya kembali. Konsistensi diharapkan hadir untuk mengisi celah ini.

Begitulah sejatinya hidup. Isian yang kita lakukan hendaknya ada isian ibadah yang dapat meledakkan. Ada untaian kata sayang terhadap ibadah-ibadah yang pernah dilakukan. Bertanggung-tanggunganlah dalam ibadah, jika ia telah membaca dua lembar ayat Al Qur’an bertanggunglah untuk mengganjilkannya menjadi 3 lembar. Maka dari bertanggung-tanggunngan itulah nilai yang akan dilakukan membuat kita sayang apabila tidak menambahnya.

Tak pernah puas dalam beribadah ialah asasi, semburat nadi yang menggetarkan energi baru. Agar rasa sepi dalam diri terobati, dan pencarian telah menemukan pusaranya.  Lelah berhafal dalam menghafal, menuntun kita untuk mengaplikasikan hafalan itu dalam setiap shalat. Agar hafalan menemukan titik gunanya untuk apa dilakukan.

Maka, sudahkah kita bersayang-sayangan dan bertanggung-tanggungan dalam ibadah kita. Dengan maksud lebih dan lebih lagi. Tentunya berkerangka kebenaran dalam suatu nilai kebaikan.

Pernah dimuat pada 21 Oktober 2010, di :

http://albykazi.multiply.com/journal/item/151/Mempertahankan-Rasa-Sayang-Pada-Ibadah-Kita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s