Rasulullah Menegakkan Islam di Madinah

madinah nabawiyah

Salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh seorang muslim ialah dengan Allah Ta’ala memuliakan dua kota di Jazirah Arab. Dua kota yang disebut sebagai haramain, yakni diharamkannya perbuatan dosa dan maksiat disana yang apabila melanggar akan terkena dam (hukuman), diharamkan pula mereka yang non Islam masuk kesana, dan disana pula terdapat masjid penuh dengan kemuliaan dan dengannya pahal berlipat ganda barangsiapa seorang muslim melakukan shalat disana.

Dua kota tersebut adalah Madinah dan Mekkah. Setiap tahun sekali prosesi kewajiban dari rukun Islam yang terakhir dijalankan disana, tak pernah ada putus-putusnya kaum muslimin yang menziarahi kota tersebut untuk melaksanakan ibadah umroh. Maka begitu besar kemuliaan yang Allah berikan atas dua kota tersebut. Kota yang dalam sejarah memiliki banyak nostalgia dalam perjalanan dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. kota yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai sebaik-baiknya perjalanan

 “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid yaitu Masjidil Harom, masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di Madinah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya, setelah sebelumnya beliau terusir dari tanah kelahirannya Makkah. Hal tersebut disebabkan penyiksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap kaum muslimin diawal keIslaman mereka. Namun, di Madinah pula mereka membangun keakraban. Kedatangannya disambut oleh kaum Anshar. Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum muslimin disana.

Dakwah disambut dengan hangat dan penerimaan yang luar biasa. Kaum muslimin bersatu dan kompak sehingga Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam menjadi pemimpin dan keadaan dakwah semakin meluas dari seluruh penjuru negeri dengan berdatangannya kabilah-kabilah menyatakan keislaman mereka. Bahkan ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditemui oleh pemuda dari kalangan Yahudi yang memiliki kedudukan mulia pada kaumnya serta dari keluarga terpandang. Lantas hidayah menghampiri pemuda Yahudi tersebut sebagaimana penuturan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Sampai kepada Abdullah bin Salam berita tentang kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Ia pun menemui beliau dan berkata:’Saya bertanya kepada anda tiga hal yang tidak diketahui siapapun kecuali oleh seorang nabi. (Pertama): Apa tanda kiamat yang pertama, dan apa yang dimakan pertama kali oleh penduduk jannah (surga). Terakhir, bagaimana terjadinya kemiripan anak dengan ayahnya atau dengan akhwal (paman dari pihak ibu)-nya.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Baru saja Jibril menerangkan kepada saya.’ Abdullah menukas: ‘Jibril itu musuh orang-orang Yahudi dari kalangan malaikat.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan: ‘Adapun tanda kiamat yang pertama adalah munculnya api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Dan yang pertama kali dimakan penduduk jannah adalah ziyadah kabid hut. Adapun kemiripan itu terjadi jika mani seorang laki-laki lebih dahulu naik daripada mani wanita, maka terjadi kemiripan dengan ayahnya. Dan jika mani wanita lebih dahulu, akan terjadi kemiripan dengan akhwalnya.
Abdullah bin Salam berkata: ‘Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah. Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi adalah pendusta besar. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum anda tanyakan kepada mereka, tentu mereka mendustakanku di sisimu.’

Maka beliau memanggil orang Yahudi, dan merekapun datang. Sementara Abdullah masuk bersembunyi di dalam salah satu rumah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka: ‘Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di tengah-tengah kalian?’

Kata mereka: ‘Ia orang yang paling alim di antara kami, putera orang alim kami. Dia orang terbaik di kalangan kami dan putera orang terbaik kami.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah masuk Islam?’ Kata mereka: ‘Semoga Allah melindunginya dari hal itu.’Lalu keluarlah Abdullah menemui mereka dan berkata: ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah.’ Serta merta mereka berkata: ‘Dia adalah orang paling jahat di antara kami, putera penjahat kami’.”

Lihatlah kisah tersebut, betapa Rasulullah tidak memaksakan dakwah dan senantiasa menjadi pionir untuk menegakkan dakwah melalui cara yang elegan. Beliau menjawab pertanyaan Abdullah bin Salam, bahkan ketika itu beliau telah menjadikan Abdullah bin Salam menjadi seorang muslim. Tidak ada paksaan dalam beragama, sebagai slogan yang senantiasa ia bawa bahkan ketika ia telah menjadi penguasa jazirah Arab dan Islam terang benderang menyinari hamper setengah permukaan bumi. Sebab senantiasa terngiang apa yang Allah firmankan,

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 256)

Pada ayat tersebut dan kisah Abdullah bin Salam, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersikap adil dalam memandang suatu perkara. Tidaklah beliau berlaku dzhalim atas sesuatu hal. Itulah yang Allah firmankan mengenai sikap keadilan untuk dijunjung tinggi keadilan tanpa memandang latar belakang serta suku. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl : 90).

Dari sini pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersikap adil sekalipun dikisahkan dalam sebuah hadits datang seorang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan menggugat pembagian harta yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. sehingga menimbulkan kemarahan dari diri seorang Umar bin Khattab untuk menebas lehernya. Namun, sikap adil Rasulullah sekalipun orang tersebut menggugat beliau menghalangi Umar bin Khattab melakukan hal demikian demi sebuah kemaslahatan yang lebih besar. Seperti tertuang dalam kisah;

Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membagi harta berupa emas, maka datanglah Abdullah bin Dzulkhuwaishirah At-Tamimi lalu berkata: ‘Berbuat adil-lah engkau, wahai Rasulullah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Celaka engkau, siapakah yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?’ Umar lalu berkata: ‘Izinkan saya untuk memenggal lehernya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Biarkan dia, karena sesungguhnya dia memiliki pengikut, yang salah seorang kalian menganggap rendah shalatnya dibandingkan shalat mereka, puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari sasarannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6534).

Maka kesimpulan yang dapat kita ambil dari pemaparan diatas, yakni bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerapkan kehidupan Islami di Madinah ketika beliau dan beberapa sahabatnya tiba hingga beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kepala pemerintahan disana.

  1. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berlaku santun ketika beliau datang pertama kali di Madinah, maka hendaknya seorang muslim juga memiliki santun dimana pun ia berada. Baik itu sebagai pendatang maupun yang mukim pada satu wilayah.
  2. Hendaklah seorang mengikatkan tali ersaudaraannya kepada muslim yang lain. Dengannya ia akan saling menjaga dan mencintai sebagaimana Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.
  3. Sepantasnya bagi seorang muslim yang telah berilmu mendakwahkan apa yang telah dimiliki dengan ramah dan tanpa paksaan.
  4. Hendaknya seorang muslim senantiasa berusaha untuk berlaku adil pada berbagai kesempatan, baik itu ia di benci, di caci dan di maki. Hal demikian sepatutnya tidak menjadikan seorang muslim tidak berlaku adil bagi saudara lainnya.
  5. Jadilah sosok pemaaf dan mencari udzur saudaranya apabila disana terdapat kesalahan, berikan nasihat dengan cara baik dan tidak menyakiti hati siapapun yang diajak bicara.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang takwa dan berusaha untuk mampu menapaki jejak yang telah di wariskan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya.

3 thoughts on “Rasulullah Menegakkan Islam di Madinah

    • ziyadah kabid hut itu adalah sepotong daging yang terhubung dengan ikan paus seperti hati ikan paus dan itu makanan yang enak menurut Imam Syafi’i atau juga bisa diartikan sebagai nama binatang yang besar, sedangkan akhwal adalah kemiripan dengan paman dari pihak ibunya saja.

      Wallahu ‘Alam bi Shawwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s