Ada Peran Wanita Dalam Setiap Perjuangan

Salah satu keunggulan Islam dibandingkan lainnya ialah Islam senantiasa memandang ketakwaan dan kedekatan setiap hamba ialah dengan melihat sejauhmana amalan yang dilakukan oleh hamba tersebut. Allah tidak memandang siapa yang melakukan dan materi yang dimiliki, namun Allah Ta’ala melihat berdasarkan hati, tujuan, dan prinsip dari hamba tersebut. Yang Allah ingin lihat ialah keimanan dan keshalihan hamba tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35).

Islam tidak membedakan bentuk-bentuk peribadahan dan ketaatan yang dilakukan oleh seorang muslim baik itu perempuan maupun laki-laki. Justru, pada beberapa keadaan Islam memberikan keutamaan atau keistimewaan kepada kaum wanita.

Lantas bagaimana kedudukan wanita dalam Islam? Tentu tak ada yang menafikan bahwa peran wanita adalah peran sentral dalam sebuah bangunan Islam. Ditangan wanita maka munculah generasi shalih dan cendikia, di tangan para wanita muncul pula Islam yang tampil dengan sisi keramahan, kesopanan, halus, dan penuh kasih sayang. Islam hadir mengangkat derajat dan kehormatan wanita pada kedudukan mulia, membersihkan kerancuan dan kesesatan perilaku jahiliyah terhadap wanita, dimana mereka merasa memiliki wanita adalah aib dan membunuh anak perempuan mereka dalam keadaan hidup-hidup pun sudah menjadi biasa. Maka Islam hadir menghapuskan itu semua.

“dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl 58-59).

Sehingga keutamaan kaum wanita, telah Allah ta’ala muliakan dengan sebaik-baiknya keadaan. Di mata Islam wanita tak lagi ternodai kehormatannya, bukan lagi aib, dan bukan lagi sesuatu hal yang memalukan. Allah ganjar kebaikan sesuai dengan porsinya sebagaimana kebaikan tersebut apabila dilakukan oleh kaum pria,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl :97).

Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memuliakan wanita dengan memberikannya hak belajar, menulis, dan megenyam pendidikan. Dimana hal itu semua kelak akan bermanfaat bagi wanita untuk mendidik putra-putri mereka. Sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada Asy-Syifa` bintu Abdillah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku, yang kala itu aku tengah di sisi Hafshah. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

“Tidakkah engkau mengajari (Hafshah) ini ruqyah an-namlah sebagaimana engkau telah mengajarinya menulis?” (Sunan Abu Dawud, no. 3887. Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 178).

Terdapat pula dalam hadits bahwasanya barangsiapa yang mampu mendidik dan mengasuh beberapa anak perempuan dengan baik, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam janjikan pada dirinya pahala yang banyak dan kebaikan-kebaikan lainnya,

“Siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga keduanya mencapai usia baligh maka orang tersebut akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia1 seperti dua jari ini.” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 6638 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Terjaga pula kemuliaan wanita dengan sebaik-baiknya perlindungan dalam Islam. Diperhatikan pula keamanan setiap wanita dalam Islam dengan perlunya mereka melakukan bepergian didampingi oleh mahram mereka masing-masing, dan terlindungnya wanita tersebut melalui sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya. Dan tidak boleh pula seorang laki-laki bersama dengan seorang wanita kecuali ada bersamanya mahram.” Maka seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya menginginkan keluar bersama pasukan (untuk) begini dan begini, sementara istri saya menginginkan berhaji.” Kemudian kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pergilah bersama istrimu.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Bab Hajjin Nisa`, no. 1862)

Peran Islam dalam membangun peradaban Islam pun besar. Sebagian diantara para shahabiyah juga merupakan para pejuang dalam Islam ketika mereka membantu kaum muslimin dalam medan jihad. Kaum wanita turut menyertai sebagai penyedia logistik dan menjadi tenaga medis bagi kaum pria, seperti yang dilakukan oleh Ummu Athiyyah Al Anshariyyah radhiyallohu ‘anha yang mengikuti kaum muslimin terjun ke medan perang Khaibar, ada pula Rubayyi’ bin Muawwidz yang pernah turun ke gelanggang perang membantu pasukan kaum muslimin, selanjutnya ada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib yang dengannya ia memberikan jaminan terhadap dua orang musyrik padahal dua orang tersebut hendak dibunuh oleh saudara kandungnya yakni Ali bin Abi Thalib. Dalam medan pertempuran Uhud, kita memiliki Ummu ‘Umarah radhiallahu ‘anha yang ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib radhiallahu ‘anhum. Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Umarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang. Sehingga tak heran Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:

 “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berperang bersama Ummu Sulaim dan beberapa wanita dari kalangan Anshar ikut bersama beliau ketika beliau berperang. Mereka memberi minum dan mengobati mujahidin yang terluka.” (HR. Muslim no. 1810)

Maka sejarah Islam penuh dengan bekas jejak yang ditorehkan oleh kaum wanita, baik dari sisi pendidikan akhlak, pembinaan anak, turun ke medan jihad, mengajarkan sesama hingga mampu memberikan bantuan jaminan untuk mereka-mereka yang meminta jaminan pada saat itu. Hal tersebut kita dapati dalam Islam, sungguh berbahagia kita menjadi seorang muslim hingga hari ini, dan semoga Allah kuatkan kita dalam keadaan iman dan Islam.

Islam mengajak kaum wanita untuk menjaga dirinya sendiri dengan berbagao cara untuk tetap aktif dan fleksibel. Baik saat ia bekerja maupun sebagai tiang rumah tangga. Maka dengan demikian seharusnya kaum wanita memahami beberapa hal, yakni :

Hendaklah seorang wanita mukminah menjaga kehormatan dirinya, agar senantiasa Allah Ta’ala melimpahkan rahmat atas diri dan keluarganya. Menjaga kehormatan tersebut seperti menjaga auratnya dari fitnah yang akan muncul. Menggunakan jilbab yang sesuai dengan syar’i serta senantiasa menundukkan pandangan mereka demi keselamatan dan kemaslahatan diri mereka. Bukan pula artinya wanita dilarang keluar rumah secara mutlak, melainkan hal tersebut memiliki hajat atau keperluan yang juga baik sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: “Suatu malam, Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha keluar dari rumahnya untuk membuang hajat. Ketika itu ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu melihatnya dan mengenalinya. ‘Umar pun berkata: “Engkau Saudah, demi Allah, tidak tersembunyi bagi kami.” Saudah pun kembali menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia ceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Saat itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang makan malam di rumahku. Dalam keadaan tangan beliau sedang memegang tulang yang padanya ada sisa daging, turunlah wahyu, beliau pun berkata:

“Allah telah mengizinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 5237 dan Muslim no. 2170)

Berikutnya ialah, hendaklah seorang wanita mukminah melakukan amalan-amalan ketaatan yang semakin mendekatkan ketakwaan ia kepada Allah. Setelah itu ia mendidik anak-anaknya dan mengerjakan sesuatu karena mencari ridha Allah. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab : 33)

Setelah itu ialah, sewajibnya seorang muslimah yang telah memiliki suami agar ia senantiasa mematuhi suaminya, selama suaminya tidak berlaku buruk atau mengajak kepada kemaksiatan. Sebab biar bagaimana pun, wanita merupakan penjaga anak dan harta dalam keluarga. Sehingga kepatuhan, ketundukan, dan ketaatan tanpa pembangkangan kepada suami, selain mendatangkan keberkahan pada kehidupan dunia, demikian itu juga mendatangkan kebahagiaan di akhirat nantinya. Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan”

3 thoughts on “Ada Peran Wanita Dalam Setiap Perjuangan

  1. Ping-balik: Engkau, Perempuan #NtMS | _matahari terbit_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s