Mengurai Cita Dengan Menjaga Cinta

Sebab cinta seseorang mengalah kepada sesiapa yang ia cintai, sekali lagi, membahas cinta adalah membahas soal uraian air mata dan gelak bahagia. Ketika disebut cinta maka aura yang muncul ialah bahagia dan memberi bekas pada rona di muka. Namun bila disebut kata benci, apakah pernah kita temukan orang bicara benci dengan rona sumringah? Tentu mereka yang bicara benci dengan diiringi rasa sumringah memiliki penyakit di hatinya atas saudaranya.

Begitu mungkin yang terjadi dalam mahligai kasih yang terbalut kisah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan Khadijah bintu Khuwailid radhiyaLLahu ‘anha. Khadijah adalah suplemen cinta bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, semangatnya menyalakan harapan dan senyumnya membangkitkan keinginan yang akan tersampaikan di kemudian hari dari apa yang akan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dakwahkan.

Mungkin ucapan Khadijah yang ia sampaikan saat Rasulullah terima wahyu disaat awal ini menjadi sebuah pembuktian betapa keluhuran akhlak Khadijah menjadi gambaran istimewa dari sebuah ekspektasi cinta, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Maka cinta adalah ekspektasi bahagia yang seharusnya terurai dalam bulir bahagia, sungguh kesalahan fatal bila kata cinta dimaknai menjadi sesuatu hal yang disalaharti dan disalahguna. Kesiapan seseorang dalam merajut cinta adalah ketetapan hatinya untuk menggapai cita-cita. Karena tidak ada sebuah cita-cita yang terbaik melainkan ia telah membayangkan dan memiliki gambaran tersebut. Dan tidak ada sebuah gambaran jika tidak memiliki harapan yang diiringi dengan sebuah kecintaan.

Sehingga wajarlah bila ucapan Khadijah yang menenangkan hati Rasulullah diperdengarkan oleh Rasulullah melalui haditsnya, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.” (HR. Ahmad).

Jagalah cinta dalam keluarga, jagalah istri ataupun suami yang telah anda berkomitmen pada dirinya. Layani dan berikan yang terbaik bagi keluarga anda. Niscaya anda takkan pernah merasa gelisah dan mencukupkan pencarian hidup hanya semata-mata untuk keluarga beserta anggotanya yang anda cinta.

Wallahul muwaffiq

Iklan

Satu pemikiran pada “Mengurai Cita Dengan Menjaga Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s