Memandang Kearifan Lokal dari Sudut Pandang Islam

gambar dari himpalaunas.com

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnyalah kita menjadi orang-orang bahagia. Sebab tidaklah ada agama yang memiliki kesempurnaan sepanjang sejarah agama-agama dalam peradaban umat manusia selain agama Islam. Agama yang Allah kokohkan diatasnya 3 metodologi dalam kehidupan keseharian setiap hambanya, 3 metodologi tersebut adalah adanya ilmu sebelum beramal, mengamalkan sesuatu sesuai dengan ilmu yang dimiliki, dan bersabar dalam menuntut ilmu serta mengamalkannya.

Kesempurnaan-kesempurnaan dalam ajarannyalah yang menjadikan Islam penuh dengan kemuliaan. Dimana pun Islam berada, akan selalu menjadi perhatian disebabkan keluhuran akhlah dan budi pekerti pemeluknya, kesempurnaan ajaran yang dibawa oleh Nabinya shalallahu ‘alaihi wa sallam serta antusiasme dari para pemeluknya dalam menjaga konsistensi keberislaman yang dimiliki. Maka itulah kesempurnaan-kesempurnaan dimana Allah menutup tugas dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam firmannya;

“…. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah : 3)

Kita hidup di negeri Indonesia, negeri yang penuh dengan keanekaragaman budaya, suku, ras, dan agama. Keanekaragaman tersebut adalah keanekaragaman yang menguatkan sendi-sendi bangsa ini. Keanekaragaman yang menguatkan sebuah harmoni dan menjadi solusi atas konflik kebangsaan. Oleh karena itu tak jarang bila terjadi sebuah konflik yang menyinggung golongan atau pihak-pihak tertentu. Acapkali, budaya menjadi jembatan penyelesaian masalahnya tersebut. Masalah-masalah yang dihadapi di tengah masyarakat, terselesaikan dengan mempelajari budaya tiap pihak, didalami, dicarikan solusi sesuai dengan dimana sebuah kelompok masyarakat memegang kebudayaannya masing-masing.

Adalah Islam, agama yang menghormati perbedaan dan senantiasa menjunjung tinggi kebudayaan suatu bangsa selama kebudayaan tersebut bersesuaian dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menyelisihi syariat yang telah Allah tetapkan. Salah satu dari beberapa budaya yang pernah Islam tetapkan dari budaya-budaya sebelumnya ialah, Islam menetapkan penanggalan-penanggalan yang saat itu telah dipegang teguh oleh masyarakat jahiliyah. Dimana ketika itu masyarakat Arab memiliki system penanggalan seperti yang kita ketahui hari ini. Adanya bulan-bulan dalam Islam, sebelumnya juga telah ada bulan-bulan dalam penanggalan milik kaum Arab sebelum Islam datang, akan tetapi Islam datang dan menempatkan bulan-bulan tersebut sesuai dengan apa yang telah menjadi ketetapan, sebelum masyarakat Arab mengacak-acak penanggalan tersebut dimana mereka jadikan bulan-bulan haram untuk berperang, dan menjadikan bulan-bulan berdagang untuk diharamkan masyarakat keluar dari sukunya. Islam datang meluruskan penanggalan yang dibuat oleh masyarakat Arab jahiliyah saat itu.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At Taubah 36-37)

Budaya dan Islam

Ada beberapa budaya lainnya yang sebelumnya dimiliki oleh masyarakat Arab Jahiliyah lalu akhirnya Islam menetapkan diantaranya menjadi sebuah ajaran agama, seperti dalam pernikahan pun demikian. Dahulu ada beberapa pernikahan model jahiliyah. Pertama ialah seorang wanita mempersilahkan siapapun pria untuk menggauli dirinya dan apabila ia hamil maka ia berhak menentukan siapa bapak dari anak yang berada di kandungannya, kedua ialah pernikahan dimana seorang wanita dan seorang pria lalu menikah sebagaimana yang kita ketahui hari ini maka Islam menetapkan pernikahan model demikian, ketiga ialah pernikahan dimana seorang pria melakukan pernikahan dengan syarat waktu tertentu selama sekian waktu dengan perjanjian kepada seorang pria lalu jika sudah habis perjanjian tersebut selesai sudah pernikahan mereka.

Islam menghormati dan menghargai budaya yang dimiliki suatu masyarakat terlebih budaya tersebut memiliki ke khasan tersendiri. Yang dimaksud memiliki kekhasan tersendiri hari ini ialah budaya ramah, sopan santun, dan lembut serta baiknya perangai masyarakat Indonesia. Suka atau tidak masyarakat Indonesia dikagumi bangsa lain karena budaya kerjasama dan saling tolong menolong diantara masyarakatnya yang memiliki ikatan kuat. Lihatlah jejak peninggalan yang ditinggalkan oleh pendahulu bangsa ini, semua sepakat bahwasanya budaya apapun tidak akan kuat apabila tidak terinstal di dalamnya budaya karakter. Maka, yang membangun kekompakan perjuangan di Indonesia ialah kuatnya budaya karakter yang dimiliki bangsa ini. Tiap suku memiliki ke khasan budaya tersendiri, sama halnya yang terjadi di masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. kala itu terdapat bersuku-suku dan kabilah-kabilah berbeda. Kadangkala diantara kabilah tersebut melakukan perang dan kadang kala pula melakukan gencatan senjata. Namun saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hadir dan menyebarkan dakwah Ilahiyyah ini. Maka dua suku terbesar yang terlibat perang hingga ratusan tahun kembali berdamai, suku Aus dan suku Khazraj berdamai di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. lihat pula apa yang terjadi kepada kaum muslimin di awal masa Islam ketika mereka terusir dari tanah mereka yakni Mekkah, perjalanan ke Madinah yang di pimpin oleh suku Anshar menjadikan mereka merasa nyaman saat diterima di kalangan suku tersebut. Maka akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mempersatukan mereka, kaum Anshar dan Muhajirin dibawah panji kedamaian dan keselamatan yaitu Islam yang bermakna taslim atau berserah serta selamat.

Sehingga, patutlah hari ini, kita merasa bangga dengan agama Islam yang penuh dengan kemuliaan ini, diatasnya suku, agama, ras, dan warna kulit bukan penghalang adanya persatuan, perbedaan bukan sebab terkalangnya persaudaraan. Semoga Allah jadikan hati-hati kita diatas persatuan iman, islam, dan kenegaraan dilandasi dengan untaian syariat Islam.

Ketahuilah bahwa kita hidup pada budaya yang beragam, maka sudah sepatutnyalah budaya lokal bahkan budaya bangsa ini yang memiliki nilai persatuan kita junjung tinggi dengan sebaik-baiknya. Terlebih budaya itu memunculkan kekuatan, kekokohan, dan solidaritas antar kaum muslimin. Mulailah menghargai sekalipun itu dari tetangga sebelah rumah kita. Sebagaimana wasiat Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam, melalui jalan‘Abdullah bin ’Amru yang berkata,

سَيُوّرِّثُهُ أَنَّهُ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشَيْنَا أَوْ رُؤِيْنَا

‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.” (HR. Abu Dawud)

Islam memandang budaya lokal secara proporsional, artinya selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan norma dan ajaran Islam itu sendiri, maka hal demikian diperbolehkan. Salah satu contohnya selainyang telah dikemukakan khutbah pertama tadi sebagai penguat penghargaan Islam terhadap budaya local ialah apa yang terjadi dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ

“Pemisah antara apa yang halal dan yang haram adalah duff dan shaut (suara) dalam pernikahan.” (HR. An-Nasa`i).

Semoga Allah satukan hati-hati kita diatas persatuan dan kesatuan dan menjadikan kita sebagai hamba Allah yang saling menyayangi satu sama lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s