Agar Tak Salah Bertutur “Bid’ah!”

gambar dari: onislam.net

gambar dari: onislam.net

Merupakan sebuah kewajiban bagi setiap pemeluk agama samawi, yang Allah Ta’ala utus Rasul diatasnya untuk mengikuti apa yang Rasul tersebut bawa. Baik itu kepada Nabi Musa dimana Allah perintahkan Bani Israil untuk mengikutinya, Allah utus pula Nabi Isa ketika itu untuk menyempurnakan ajaran Nabi Musa dan mengajak mereka yang sebelumnya mengikuti Musa ‘alaihi salam untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Isa ‘alaihi salam. Allah utus pula khataman nabiyyin wal mursalin, penutup para Nabi dan Rasul yakni Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakan agama-agama terdahulu, dan menetapkan Islam sebagai agama yang diterima oleh Allah Ta’ala.

Tak ada agama lain selain Islam yang Allah akui hingga akhir zaman. Apa-apa yang mereka para Rasul bawa dan wajib diikuti oleh kaumnya ialah sunnah. Sunnah yakni kebiasaan yang dituntunkan untuk dilakukan semata-mata agar membimbing seseorang kepada jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pamungkas pun mengungkapkan dua pusaka mulia nan berharga, barangsiapa mengikutinya kelak jaminan tak tersesat selamanya akan mudah digapai. Seperti sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.

 Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya”. (Hadist Riwayat Malik secara mursal (Al-Muwatha, juz 2, hal. 999).

Muhammad Abduh Tuasikal menukilkan soal definisi bid’ah. Secara bahasa bid’ah bermakna membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

 بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

 “Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.

 Juga firman-Nya,

 قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

 “Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah).

Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)

Maka sedikit kita ambil kesimpulan sesuai dengan keterangan para ulama sebelumnya bahwa, lawan dari sunnah ialah perbuatan bid’ah. Jika sunnah itu adalah ketetapan, maka bid’ah disini diartikan sebagai hal yang baru diciptakan atau diadakan. Bid’ah pun terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Bid’ah secara ibadah atau agama, ini merupakan perbuatan bid’ah yang tercela dan mengundang kebencian Allah serta Rasul-nya. Dan berikutnya adalah bid’ah dalam urusan keduniaan seperti yang Rasulullah lakukan ketika musim pembenihan kurma dimana beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabat yang menjadi petani kurma agar tidak perlu repot untuk naik turun pohon. Jika Allah kehendaki maka terjadi dengan sendirinya. Namun, kurma tak kunjung berbuah sehingga para sahabat bertanya soal ini apakah datangnya dari Allah atau dari beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. beliau pun menjawabnya ini adalah dari dirinya yang dalam hal ini bisa jadi keliru. Sehingga akhirnya beliau memerintahkan kepada para sahabat tersebut melakukan sebagaimana semula.

Contoh lain perbuatan bid’ah dalam urusan keduniaan ialah munculnya wasilah-wasilah atau sarana yang memudahkan proses peribadahan atau pendekatan diri kepada Allah. Hal-hal tersebut dapat khathib sampaikan diantaranya ialah munculnya pengeras suara yang hari ini digunakan untuk memperdengarkan adzan dan menyampaikan dakwah Islam, hadirnya alat transportasi yang dimudahkan untuk melakukan ibadah haji, munculnya alat-alat canggih untuk mengetahui letak posisi kiblat, untuk berwudhu, dan amalan yang Allah syariatkan lainnya. Hal-hal tersebut tergolong bid’ah yang dibolehkan. Sebab substansinya bersifat keduniaan.

Adapun dalam urusan agama, maka hal tersebut merupakan ranah tauqifiyyah atau ranah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Area dimana hal tersebut sudah disempurnakan tanpa butuh tambahan. Semisal shalat, apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, maka cukuplah bagi kita untuk melakukan apa yang telah beliau contohkan. Begitu juga dengan amalan ibadah lainnya. Sungguh kita lebih berhak mengikuti hal demikian sebagaimana sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara peribadahan. Hal ini telah Allah ingatkan dalam firmannya,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am : 153)

Nabi juga sabdakan untuk senantiasa konsisten diatas sunnah dan tak perlu diatasnya dibangun perbuatan kebid’ahan.

إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“‘Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, (maka saat itu) ikutilah sunnahku dan sunnah para khulafa’ Ar-rasyiddin yang mendapatkan hidayah, gigitlah (sunnah)dengan gigi-gigi geraham (berpegang teguh), dan jauhilah perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tarmidzi ia katakan hadits hasan shahih).

Melihat Keadaan Sebelum Mengucapkan

Perbuatan bid’ah dalam urusan agama adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengecam, sehingga patut bagi beliau untuk mengingatkan umatnya melalui sabdanya,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

 “Barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan (agama) kami, apa-apa yang tidak ada keterangan darinya maka ia itu tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan riwayat Muslim yang lain, beliau bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

 Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dilandasi/sesuai dengan keterangan kami, maka ia itu tertolak.”

Bahwasanya perbuatan bid’ah bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk disampaikan secara sembarangan. Menjelaskan soal bid’ah membutuhkan kesabaran, waktu yang tepat, siapa yang diajak bicara, juga siapa pula yang akan menyampaikan. Sebab tidaklah dianjurkan kepada mereka yang tidak mengenal dan memahami agama ini dengan baik lantas berucap ini bid’ah, ini sesat, ini salah, ini tak sesuai perintah. Tidak sekali tidak, dakwah dalam menyampaikan kebid’ahan adalah sesuatu yang bisa jadi jika salah menyampaikan akan menimbulkan kesalahpahaman, kekhawatiran, bahkan tak jarang justru memunculkan tindakan yang bisa jadi tak menyenangkan bagi mereka yang menyampaikan.

Permasalahan bid’ah adalah persoalan bagaimana anda bersikap terhadap mereka dan bagaimana jalan yang harus ditempuh. Ingat ada prioritas yang urgensinya lebih tinggi yakni pemahaman tauhid yang sempurna. Hal ini disebabkan karena jauh sebelum Rasulullah menyampaikan soal larangan, yang dilakukan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penanaman tauhid. Jika tauhid sudah menghujam dalam dada dan sempurna dalam tubuh seorang mukmin, jangankan untuk perkara bid’ah, perkara yang lebih tinggi lagi pengorbanan yang harus dilakukan niscaya mereka akan siap melakukannya semisal jihad fii sabilillah.

Mari kita tempatkan posisi sebelum mengucapkannya, sebab tidak semua pakaian yang kita pakai cocok bagi orang yang tidak pernah menggunakan atau bahkan sama sekali mengenal pakaian. Cobalah memahami sejauhmana kondisi psikologi dan sosiologi atas medan dakwah yang akan kita letakkan fondasi ketakwaan terhadap Allah dan kecintaan pada sunnah Rasulullah. Jangan sampai semangat mendahului sebelum mengingat keadaan ditempat kita akan menyampaikan.

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari melakukan kebid’ahan yang tidak perlu untuk dilakukan, terlebih hal tersebut justru menjadikan seseorang terjerumus pada perbuatan buruk dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا.

Barangsiapa yang mempelopori perbuatan buruk maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya hingga hari qiamah tanpa dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Wallahu ‘Alam bii Shawwab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s