Dedikasi Pemuda Islam Untuk Kejayaan Negeri

gambar dari: power500.arabianbusiness.com

gambar dari: power500.arabianbusiness.com

Merupakan sebuah fenomena hari ini, dimana kita melihat sedikit demi sedikit kaum muslimin pelan-pelan meninggalkan agama mereka. Bukan karena mereka lupa terhadap agama, akan tetapi kenikmatan dunia yang seharusnya Allah Ta’ala gunakan dengan sebaik-baiknya sebagai bekal menuju kehidupan akhirat di salahgunakan dimana mereka menjadikan kehidupan dunia sebagai satu-satunya tujuan.

Salah satu trend yang hari ini kita dapat saksikan adalah munculnya para pemuda yang hidup tenggelam dalam balutan hedonisme, sebuah paham dimana hal yang demikian disebutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah penyakit bernama al-wahn yakni cinta dunia dan takut mati. Mereka mencintai dunia padahal dunia kelak akan mereka tinggalkan nantinya, mereka lupa akan agama mereka sehingga kelak agama yang seharusnya dipelajari dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan Islam di masa mendatang semakin tak mereka pahami nilai dan maknanya. Maka tidak salah jika hari ini, kita melihat ajaran Islam yang mulia dipelintir sedemikian rupa oleh sebagian orang dengan bahasa yang bernuansa Islami, semisal terorisme yang dinamakan jihad. Padahal tidaklah Islam ada justru hadir memerangi terorisme, namun beberapa aksi terorisme hari ini justru dilakukan oleh anak-anak muda muslim. Mereka memahami agama dengan cara yang tidak tepat dan jauh dari pengertian para pendahulu mereka yang shaalih.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika muda adalah pribadi yang lurus akal dan baik akhlaknya. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sejak muda telah dijuluki sebagai sosok yang amanah (al –amin) sehingga seluruh kabilah yang berada di jazirah Arab mengangkat kepala kepada beliau dan segan terhadap apa yang beliau lakukan. Hingga akhirnya Allah Ta’ala memilih beliau menjadi Rasul terakhir yang mengemban risalah tauhid hingga akhir masa dan selama dunia masih ada.

Dengan Apa Bermula Bangun Jaya?

Oleh karena itu, betapa Allah Ta’ala memuliakan dan mencintai Rasul-Nya tersebut yakni Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikan beliau sebagai teladan bagi setiap pemeluk agama Islam. Firman Allah Ta’ala

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Bahkan Allah Ta’ala juga menjadikan beliau patokan dan syarat untuk mencintai Allah maka ia harus mencintai Rasul-Nya pula, dan ini Allah tegaskan dalam firman-Nya pada QS. Ali Imran : 31.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Diantara sekian banyak akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau miliki ketika muda ialah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menghormati orang yang lebih tua dibandingkan beliau dan senantiasa menghargai orang yang sebaya atau lebih muda dengannya. Ada pula akhlak beliau yang melekat yakni jujur sebab ketika dahulu semasa menjadi pegawai dari seorang yang kelak menjadi istri beliau yakni Khadijah radhiyallohu ‘anha, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjalankan perniagaan milik Khadijah. Hingga akhirnya Khadijah pun sebagai seorang bangsawan dan pedagang terkenal menikahi beliau disebabkan akhlak jujur yang beliau miliki.

Akhlak beliau lainnya ialah beliau senantiasa meringankan pekerjaan dan membantu orang-orang yang merasa sulit atas pekerjaan yang dihadapi oleh orang lain. Beliau senantiasa memudahkan suatu urusan dan menjadikan hikmah dalam setiap urusan itu akan menuai kebaikan. Dan adalah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sosok yang tidak pernah mengucapkan kata “tidak” apabila ada orang yang membutuhkan bantuannya.

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan kata: “Tidak” tatkala dimintai.” (HR. Bukhari)

Maka benarlah apa yang beliau katakan terkait maksud Allah Ta’ala mengutus beliau menjadi Rasul, salah satunya ialah

إِنـَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَـمْمِّ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

 “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Maka sudah saatnya pemuda hari ini mereka melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi agamanya. Ia dituntut untuk menjadikan sesuatu itu baik dan memiliki landasan ilmu dalam melakukan amalan. Kelak yang demikian itu dikemudian hari akan memajukan Islam. Dan ketahuilah kemajuan Islam di dapatkan dari kemauan seseorang dalam mengerjakan perkara yang ma’ruf dan menjauhi perkara yang berisikan kemungkaran.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman : 17).

Pemuda menggunakan akal dan pikirannya dan memajukan Islam melalui banyak jalan yang ia mampu untuk melakukannya. Baik itu dalam bidang perekonomian dengan membangkitkan nilai-nilai usaha yang sesuai dengan syariat Islam, seperti bermuamalah dengan kejujuran, menjauhi praktek suap (risywah), meninggalkan jual beli dengan cara riba, hingga mengajak kaum muslimin untuk menjauhi perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kini semakin tumbuh subur di negeri Indonesia ini.

Sumbangsih pemuda juga dituntut untuk senantiasa membangun bangsa dan agama ini dengan hal yang bermanfaat. Ia berkarya dan berusaha sambil terus memanjatkan doa. Para pemuda tumbuh menjadi sosok-sosok yang menarik laju pembangunan Indonesia dengan karya nyata dan harapan bersama.

Akan tetapi hari ini kita melihat bahwasanya diantara para pemuda, mereka tidak menunjukkan aksi nyata dalam perubahan untuk bangsa ini melainkan justru yang mereka lakukan adalah aksi-aksi penuh dengan kerusakan. Aksi-aksi yang didalamnya jauh dari koridor syariat Islam bahkan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya. Belakangan ini fenomena peledakan, dan teror di berbagai tempat di negeri ini telah menjadikan wajah ibu pertiwi kembali berduka. Korban akibat kejahatan terorisme yang diusung oleh para pemuda dengan slogan jihad menjadi sebuah kesalahpahaman yang wajib untuk diluruskan.

Jihad yang mereka katakan sungguh sama sekali tidak memiliki landasan ilmu yang benar dan dibenarkan. Maka dengan demikian persoalan yang diangap para pemuda pengusung jihad adalah ilmu yang bukan berasal dari khasanah Islam penuh kemuliaan, akan tetapi datang dari para juhalaa yakni orang bodoh yang mengaku memiliki ilmu akan sesuatu. Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras mengambil ilmu dari orang yang demikian dan kelak akan menuai akibat fatal. Sebagaimana sabdanya:

“Manusia akan senantiasa dalam keadaan baik dan penuh komitmen selama ilmu yang datang/ sampai kepada mereka dari para shahabat Muhammad dan dari orang-orang besarnya (para ulamanya), namun jika (ilmu) yang sampai pada mereka dari orang-orang kecilnya (orang-orang jahil) niscaya mereka binasa.” (HR. Ath-Thabrani, 9/8589 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, diambil dari Fatawa Al-’Ulama Al-Akabir, hal. 33-34)

Maka pesan kepada setiap pemuda, setiap pendidik dan setiap mereka yang terdidik untuk membangun negeri ini dengan kedamaian. Dengan manfaat yang paripurna di dalamnya. Bukan dengan perbuatan penuh dengan kerusakan dan jauh dari keridhaan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kkita sebagai hamba-Nya yang senantiasa bertakwa dan istiqomah diatas jalan penuh kemuliaan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s