Warisan Kemuliaan

gambar dari: lifestyle.kompasiana.com

gambar dari: lifestyle.kompasiana.com

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Kabir dan dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani. Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu melewati pasar di Madinah lantas ia berhenti dan berujar: “Wahai penghuni pasar, betapa lemahnya kalian!”

Para penghuni pasar pun berkata: “Apa maksudmu hai Abu Hurairah?”

“Itu warisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang dibagi-bagikan sedangkan kalian masih tetap disini. Apakah kalian tidak berkeinginan untuk pergi kesana dan bergegas mengambil bagian kalian?” Jawab Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu.

Orang-orang di pasar berkata, “Dimanakah pembagian itu?”

“Di Masjid” jawab Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu.

Maka para pedagang tersebut lekas ke masjid, sedangkan Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu tetap berada di tempatnya hingga mereka kembali.

Selepas mereka keluar dari masjid, Abu Hurairah bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian dapatkan?”

“Wahai Abu Hurairah, sungguh kami telah mendatangi masjid itu, lalu kami memasukinya namun kami melihat tidak ada sesuatu yang dibagi-bagikan.” Jawab para pedagang pasar tersebut.

Abu Hurairah menjawab, “Apakah kalian tidak melihat seorang pun di dalam masjid?”

Mereka menjawab, “Ya, kami melihat orang-orang shalat, membaca Al Qur’an, dan orang-orang yang mempelajari halal-haram.”

“Celaka kalian! Itulah harta warisan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam” sergah Abu Hurairah menjawab ucapan mereka.

Begitulah realita yang ada, hal tersebut terjadi bukan hari ini. Hal tersebut terjadi di masa Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu. Apatah lagi masa sekarang, dimana kemilau harta mendera banyak kehidupan manusia hari ini. Saat dikatakan soal warisan, maka yang terbersit dalam pikiran ialah warisan berupa harta dan kebendaan dunia lainnya.

Tapi begitulah tugas ulama, setiap masa dan setiap jaman hadir untuk mengingatkan manusia. Mengajak manusia untuk berada dalam kebaikan dan berjalan diatas ajaran syariat Islam yang mulia. Namun menjadi masalah jika para ulamanya terperosok dalam kemilau harta, dengan apa mereka akan mengingatkan manusia iika mereka sendiri tak bisa menjaga dirinya dan keluarganya dari hal-hal yang membahayakan urusan dakwahnya?

Hari ini, kita butuh kesederhanaan dalam mendewasakan perjalanan kehidupan kita, mencermati dan mengamalkan warisan Nabi yang semakin hari tak terhenti hilang dari muka bumi. Sunatullah memang, tapi bukan berarti mereka yang melaksanakan turut hilang. Masih ada mereka yang istiqomah untuk hidup sederhana, mengimplementasikan harta warisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baiknya, dan secara perlahan mereka menjadi teladan ditengah keluarga dan masyarakat tempat tinggal mereka berada. Hanya satu kunci kemuliaan orang-orang tersebut, yakni melazimkan apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan semampu tenaga dan upaya mereka.

Disaat lelah mereka rehat, dan disaat semangat mereka menggebu menambah amalan dan bersegera berlari kepada kebajikan dan pahala selanjutnya. Warisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, perlahan pudar. Bukan karena tak ada yang mengerjakan, tapi terlalu banyaknya orang yang mengerjakan sedangkan mereka sudah kelelahan, kelelahan tersebut akhirnya terakumulasi dalam kebosanan yang memaksakan mereka untuk terus melakukan. Sehingga perlahan mereka berpaling dari sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebab kesalahan mengamalkan ajaran yang dimulai dari kelelahan.

Laksanakanlah warisan nabi dengan apa yang kita sanggup untuk lakukan, tidaklah baik memaksakan sekalipun hal tersebut merupakan amal kebaikan terkecuali kita terbiasa untuk selalu melaksanakannya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba beliau dapatkan seutas tali terpasang memanjang diantara kedua tiang. Beliau pun bertanya, ‘Tali apakah ini?’ para sahabat menjawab, ‘Tali ini dipasang oleh Zainab, jika ia merasa letih (dalam shalat) ia berpegangan dengan tali itu.’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lepaskanlah tali itu, seseorang diantara kalian hendaknya shalat dalam keadaan segar, bila ia merasa letih, tidurlah.’ (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu ‘Alam bii Shawwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s