Tidak Ada Paksaan Dalam Kesempurnaan

gambar dari: luvhoney.multiply.com

gambar dari: luvhoney.multiply.com

Adalah Islam, agama yang datang ke negeri ini penuh dengan kedamaian. Islam datang melalui jalur kemasyarakatan, jalur perdagangan dan pernikahan. Islam tersebar dengan budaya dan gaya santun ke tengah masyarakat Indonesia. Lihatlah apa yang dilakukan oleh para Wali penyebar agama Islam. Mereka sampaikan dakwah dengan gaya moderat. Tak ada pemaksaan bahkan tak ada kekerasan. Tak perlu khawatir kondisi masyarakat saat itu saat Islam tiba di tanah air. Justru sebaliknya, masyarakat Indonesia melihat bahwa Islam adalah harapan, akan menghadirkan pencerahan, dan mengikis kebodohan. Karena para pendakwah dari jazirah Arab sudah masyhur dikenal oleh masyarakat Indonesia akan kecerdasan dan jiwa petualang penuh damai yang mereka miliki.

Begitulah yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dalam berdakwah. Beliau sama sekali tak pernah memaksakan Islam diawal-awal dakwahnya, beliau selalu mengajak dengan santun yang terdiri dari perkataan baik disertai perbuatan mulia. Karena memang sebelum beliau diangkat oleh Allah Ta’ala sebagai Nabi dan Rasul, keluhuran dan kebaikan akhlah beliau telah terkenal di kalangan pemuka Quraisy. Sehingga beliau diberikan amanah untuk menengahi sengketa peletakan hajar aswad setelah sebelumnya dicuri dan kabilah-kabilah yang ada saat itu berebut untuk siapa yang berhak meletakkanya kembali di tempat semula. Maka Rasulullah melebarkan selendangnya dan mempersilahkan diujung-ujung selendang tersebut setelah Hajar Aswad diletakkan di tengahnya.

خُلُقًا أَحْسَنُهُمْ إِيمَانًا الْمُؤْمِنِينَ أَكْمَلُ

“Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi no. 1162, Abu Daud no. 4682 dan Ad Darimi no. 2792, hasan shahih)

Akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat mencintai pamannya yakni Abu Thalib. Paman yang senantiasa menyertai suka duka dakwah beliau hingga akhir hayatnya beliau pun wafat dalam keadaan tidak sebagai seorang muslim. Padahal saat sakaratul maut, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha mengajaknya dan sedikit memaksa untuk sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat. Akan tetapi paman beliau sungkan terhadap pemuka kafir Quraisy saat itu yang ada disekitar beliau. Sedikit paksaan Nabi terhadap Abu Thalib segera diingatkan oleh Allah Ta’ala soal hidayah,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash : 56)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menyampaikan dakwah tidak hanya kepada para pemuka-pemuka agama atau tokoh-tokoh kafir saat itu saja, akan tetapi beliau juga turun kepada masyarakat lapisan manapun sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat beliau yakni Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu, “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 1356).

Karena luhurnya akhlak dalam Islam, Allah Ta’ala juga menekankan kepada mereka yang beriman agar tetap bersikap adil sekalipun mereka telah menyakiti hati kita, mengecewakan kita, dan mungkin pernah merasakan kedzhaliman yang ia lakukan. Allah Ta’ala tetap menyuruh agar melakukan perkara adil. Seperti firman Allah Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah : 8)

Namun hari ini, mungkin kita melihat sebagian dari pelaku dakwah yang menampilkan dakwah dalam balutan kasar, dibungkus dengan arogansi, bahkan penyampaian amar ma’ruf nahi mungkar penuh dengan pemaksaan dan harus mengikuti apa yang ia katakan, lakukan dan inginkan. Ketahuilah bahwa demikian halnya bukan merupakan akhlak Islam. Terlebih pada konteks Indonesia, masyarakat Indonesia dengan budaya timurnya adalah masyarakat santun penuh kelembutan.

Bagaimana bisa ada pihak-pihak yang mendakwahkan Islam dengan cara paksa. Padahal Allah Ta’ala telah menegaskan untuk memaksakan agama ini, bermaksud cukuplah sinar dan pesona Islam dengan penuh kedamaian memancarkan hidayah bagi mereka yang terbuka hati dan pikirannya. Pemaksaan dalam agama tidaklah Allah sukai sehingga Dia berfirman,

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. “ (QS. Al Baqarah : 256)

Padahal, kepada mereka yang muslim saja, Allah Ta’ala menganjurkan mereka untuk bertakwa sesuai dengan kemampuannya. Apabila mereka tak sanggup atas suatu urusan agama, maka hendaknya seseorang memilih urusan paling mudah atas dirinya. Begitulah Islam, agama yang berdiri diatas prinsip-prinsip keadilan, baik kepada pemeluknya maupun kepada mereka yang berlum mengenal Islam. Firman Allah Ta’ala,

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Taghabun : 16)

Maka, dari penjelasan ayat-ayat sebelumnya beserta dengan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sudah jelas bagi kita bahwa tidaklah sebuah dakwah dapat ditempuh dengan kekerasan atau pun memaksakan. Dakwah Islam membutuhkan adanya akhlak luhur penuh dengan kebaikan. Demikian itulah keindahan Islam, dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah paparkan dalam sabdanya soal akhlak-akhlak mulia.

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 2018, shahih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s