Hubungan Penuh Kasih Sayang: Mengoptimalkan Perkembangan Sosial dan Emosional Bayi

Sumber: diakonie-eingliederungshilfe.de

Sumber: diakonie-eingliederungshilfe.de

Bayi yang baru lahir memerlukan awal yang baik untuk memulai pertumbuhan dan perkembangannya. Hidupnya setelah lahir tentu saja tidak senyaman ketika dia di dalam rahim. Oleh karenanya lingkungan terdekat yang nyaman baginya akan membantunya memenuhi kebutuhannya. Keluarga merupakan lingkungan terdekat yang pertama ditemukan oleh bayi. Interaksi dan pengalaman yang dibangun bayi bersama ibu, ayah, dan saudara-saudaranya merupakan awal dari sebuah proses sosialisasi sepanjang hidupnya (Santrock, 1983; Brisbane, 1965)

Pada masa bayi, ibu merupakan orang yang paling potensial mempengaruhi perkembangan anak secara emosi. Satu-satunya bahasa yang dikenal bayi pada minggu-minggu pertama kelahirannya adalah kontak fisik yang diperoleh bersama ibunya atau pengauh lainnya. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangan emosional bayi adalah kualitas hubungan yang dibangun antara bayi dengan orang tua/pengasuhnya. Kualitas hubungan ini akan menjadi optimal bila setiap waktu yang dihabiskan orang tua dengan bayinya merupakan waktu yang menyenangkan bagi keduanya. Jika dalam keseharian, hubungan antara orang tua dengan anak diwarnai dengan ketidakbahagiaan dan ketidaksetujuan maka anak akan sulit untuk mengembangkan kepercayaan diri dan kepribadiannya (Brisbane, 1965).

Pengasuhan, perhatian, dan hubungan yang dibangun dengan penuh kasih sayang akan mempercepat perkembangan emosional dan kesehatan mental bayi. Ketika hubungan dengan bayi dan anak-anak dibangun dengan penuh kebaikan dan penghargaan, maka bayi akan berkembang dengan perasaan aman dan emosi yang merasa terlindungi. Pengasuhan melalui pembinaan hubungan (relationship) menyediakan “dasar yang aman”  sehingga anak bisa memulai mengeksplorasi dunia dengan jaminan rasa aman. Semakin banyak hal baru yang dieksplorasi, semakin sukses pengalaman yang diperoleh bayi. Pengasuhan melalui pembinaan hubungan dengan penuh kasih sayang ini akan membuat bayi merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan senantiasa merasa berharga. Selain itu, pengasuhan ini akan mengajarkan anak untuk memperlakukan orang lain di lingkungannya dengan baik. Perlu disadari bahwa bayi dan anak-anak meniru apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya, menyimpannya dalam memori dan suatu saat akan melakukan hal yang sama dengan orang dewasa tersebut. Bayi yang diperlakukan dengan penuh cinta kasih akan tumbuh menjadi seseorang yang peduli dengan orang lain (Osofsky, 2004).

Dalam membangun hubungan ini, mungkin ada komunikasi yang tidak terucapkan antara sang bayi dengan ibunya. Emosional sang bayi terlihat sebagai sebuah refleksi dari apa yang diberikan ibunya. Jika ibu merasa tenang, relaks, dan bahagia maka bayi pun akan merasa lebih berarti dan aman. Meskipun kelihatannya tidak terlalu penting mempertimbangkan bagaimana membangun komunikasi yang spesifik dengan bayi, seorang ibu yang percaya diri akan memeluk bayi di dalam lengannya, memegangnya dengan kuat, dan mengajaknya berbicara dengan suara yang lembut. Jika bayi merasa hangat dan nyaman, ketika lapar segera diberi ASI/makanannya, diajak berbicara ketika bangun tidur maka dia akan merasa nyaman dan akan terbangun trust di dalam dirinya. Trust terbentuk ketika kasih sayang dan kebutuhan bayi dapat bertemu(Brisbane, 1965).

Kasih sayang pengasuh (dalam hal ini ibu) bertemu dengan kebutuhan bayi, salah satunya adalah ketika ibu menyusui sang bayi. Ketika menyusui, bukan hanya kontak fisik yang terjadi antara ibu dengan bayinya. Saat-saat tersebut juga memberikan kesempatan kepada ibu untuk mengajaknya berkomunikasi melalui suara-suara yang lembut dan menggendongnya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Sehingga bayi akan merasa nyaman. Selama ini manfaat menyusui memang lebih ditekankan apda manfaat nutrisi yang terkandung di dalamnya, dan mungkin bagi sebagian ibu hanya dianggap sebagai pemenuhan kewajiban ketika waktu makan bayi telah tiba. Tidak banyak ibu yang menyadari bahwa ketika menyusui, ibu mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan anak dan menunjukkan bahwa keberadaan sang bayi sangat berarti bagi lingkungannya.

Sumber tulisan :

http://alfiasari.staff.ipb.ac.id/2012/03/12/hubungan-penuh-kasih-sayang-mengoptimalkan-perkembangan-sosial-dan-emosional-bayi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s