Bagaikan Sepotong Kue

Foto dari: mixtomatch.blogspot.com

Foto dari: mixtomatch.blogspot.com

Hari ini amalan terbaik apa yang sudah kita lakukan, amalan terbaik yang dibersamai dengan keikhlasan serta ketulusan dalam pengerjaannya. Bukan sekedar mengangankan sebuah keberhasilan apabila di dalamnya tidak terdapat langkah untuk mengamalkan apa yang seharusnya kita lakukan. Karena sejatinya hidup bukan hanya sekedar menunggu. Ada waktu yang selalu dirajut untuk mempertemu dan menjawab serta memilah dalam bingkai pilihan mana yang nyata dan mana yang semu.

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisaa : 123-124)

Maka sudah berapa banyak amal baik yang dilakukan hingga hembusan nafas saat ini? Maka sudah berapa banyak manusia tertolong tersebab amalan kebaikan yang kita rajut hari demi hari? Dan sudah berapa banyak balasan akan amal yang sudah kita terima sejak masa lapang hingga masa sempit menerjang.

Bagaikan potongan kue yang harus di makan dan dihabiskan, begitulah kehidupan dalam menggambarkan peran. Potongan kue mana yang kita makan, maka itulah rejeki yang tersisa. Apabila mampu menikmati maka terasa syukur dalam dada, jika pahit ditemui maka buka sabar dalam hati. Begitulah seharusnya mereka yang cerdas, yakni menata hidupnya dalam jalan iman dan takwa, merapikan niatnya dalam tatanan kebahagiaan sebab dalam dunia segalanya fana hingga jumpa akhir cerita dimana semua memiliki kisah yang sama. Yakni sebuah kematian, sebagai penutup dari habisnya potongan kue yang kita makan dan paksa diri habiskan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang Anshar, “Siapakah diantara kaum mukminin yang paling cerdik?”

Maka beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian diantara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR. Ibnu Majah, no 4259 dan dinilai dengan derajat Hasan).

Wallahu ‘Alam bii Shawwab

(Abu Haniina Rizki. Ditulis di SD Islam Al Hilal Bekasi, 29 Mei 2013)

Iklan

2 pemikiran pada “Bagaikan Sepotong Kue

  1. Asalamualaikum ! Saya berkunjung untuk menyapa sahabat semua !
    Artikel yang anda bagikan sangat bermanfaat.
    Kebetulan juga saya baru di wordpress, jika ada waktu. Mampir ya sahabat. !

    • wa’alaikumussalam warahmatullah, senang membaca apresiasi anda. semoga memperoleh manfaat. baik saya meluncur kesana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s