Jika Terjadi Lagi, Mungkin Tak Berani Ulangi

Kutojaya Utara

Kutojaya Utara

Begitulah sejatinya perasaan saya dalam kisah cinta dengan jarak yang saya lakoni pekan ini. Kejadian tersebut saya alami 25 Mei 2013. Saya paham benar Sabtu itu adalah hari libur Nasional dengan peringatan berwarna merah di setiap kalender apapun disertai dengan keterangan atas hari libur tersebut. Sebagaimana liburan sebelumnya, sejak adanya perubahan drastis dari PT. Kereta Api Indonesia. Maka saya yang sebelumnya selalu berangkat Jumat malam menggunakan Progo. Pada perubahan jadwal yang sudah dilakukan sehingga saya harus menempuhnya dengan Kutojaya Utara menuju Purwokerto.

Saya tahu persis hari itu adalah tanggal merah, tapi kalkulasi saya saat itu meleset tak terduga. 15 menit sebelum kereta berjalan, saya dihadapkan pada penolakan dimana seharusnya saya rutin menitipkan kendaraan disana, yakni Masjid Al Arief sisi kanan Pasar Senen Jakarta. Penjaga menolak keras siapapun yang menitipkan motor untuk bermalam. Tersebab tak ada petugas penjaga serta peringatan dari aparat Polisi yang melarang menggunakan bahu jalan sebagai tempat penitipan kendaraan.

Maka otak harus diputar dengan segala keadaan, pikiran saya adalah RSPAD Gatot Soebroto, tapi sekali lagi itu tak mungkin karena kondisi memang tidak memungkinkan selain jarak dan tentunya tipis sekali ketepatan dalam berprakiraan. Saya hubungi ibu di rumah melalui ponsel, dan ibu menuntun saya untuk menitipkannya di kantor polisi. Motor tetap saya laju menuju jalan ke arah Bungur atau Gunung Sahari sehingga jumpa markas Polisi Militer dekat sana. Tentu waktu beranjak jalan hingga tersisa 10 menit lagi.

Saya beranikan masuk di markas tersebut dan penolakan keras pun terjadi, maka penolakan keras ala militeristik pun di dapatkan. Tersebab tak paham prosedur dan keadaan yang mendesak maka segera saya selesaikan hal demikian dengan disertai ibu yang masih stand by di ujung ponsel.

Hotel Ibis saya lihat mungkin bisa jadi tempat penitipan, tapi sekali lagi jarak takkan bisa terselesaikan dengan waktu. Hal tersebut karena waktu tersisa hanya 10 menit lagi. Tanpa pikir panjang dan ibu masih menyertai perjalanan saya. Maka saya beranikan kembali ke arah stasiun dan berpikir cepat dengan mengkonfimasi ibu untuk membuat skenario sederhana. Yakni mencari kunci cadangan di kamar beliau sebagaimana hal tersebut biasa dilakukan saat memiliki kendaraan.

Saya pastikan kendaraan diletakkan di parkiran stasiun yang tentu tak bisa untuk diinapkan. Saya pastikan kunci sudah dijumpai oleh orangtua di rumah dan eksekusi dilaksanakan. Kunci beserta karcis parkir berada di motor serta-merta saya masukkan bagasi. Motor saya tinggalkan di pelataran parkir, waktu hanya tinggal 5 menit. Pintu peron sepi dan Kutojaya Utara sudah membunyikan suara lokomotifnya. Mendebarkan dan krusial sangat.  Segala sesuatu jika Allah sudah berkehendak maka akan di mudahkan apa yang nampaknya sulit.

Jika hal tersebut terjadi lagi, maka mungkin saya takkan berani ulangi. Sebab sangat resiko serta riskan untuk dilakukan. Motor akhirnya diambil oleh bapak saya beberapa jam setelah kereta berangkat.

Bagi saya, ada banyak episode menegangkan dalam cinta dengan jarak yang saya lakukan. Tapi kejadian kali itu sangat tak bisa di lupakan. Maka berbahagialah mereka yang senantiasa bersama dengan keluarganya. Bagi saya, ini mungkin belum seberapa dibandingkan dn=engan mereka yang telah menempuh perjalanan cinta dengan jarak hingga puluhan tahun lamanya dan eksis hingga saat ini. Satu hal yang menjadi hikmah, bahwa keputusan itu bisa dilaksanakan saat kita bisa jadi dalam kesempitan. Sebagaimana tendangan penalti penentu kemenangan dalam sebuah pertandingan. Dramatis dan dilematis.

2 thoughts on “Jika Terjadi Lagi, Mungkin Tak Berani Ulangi

  1. Ada rencana saya mau mudik lebaran nanti pada H-2. Teman saya saya ada yang kasih saran coba parkir di daerah senen bisa nginep. Difikiran saya, gimana klw parkirannya penuh dan ada penolakan, bisa-bisa saya ditinggal kereta. Sedangkan mendapatkan tiket kereta lebaran penuh perjuangan demi bisa mudik. Setelah saya blog ente, jadi saya urungkan niat menitipkan motor ya naek taksi ajalah biar lebih aman. Trims gan info pengalamannya

    • saya baru balas, karena blog ini lama sekali tidak kami buka.

      saat ini penitipan motor ada dua di sekitaran wilayah Senen, di masjid Al Hakim dan di depan GOR Senen.

      namun itu pun tidak bisa jamin akan muat saat masa mudik lebaran.

      semoga bermanfaat infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s