Jadikan Anakmu Bermutu!

Sumber: aimislam.com

Sumber: aimislam.com

Memiliki buah hati dalam sebuah kehidupan suami-istri adalah sebuah kebahagiaan yang takkan bisa terganti, buah hati merupakan investasi dunia dan akhirat serta seakan menjadi sebuah syarat sempurnanya suatu keluarga. Di dalamnya terhimpun berbagai macam kegembiraan dan kesenangan sebagai pengusir lelah dan penat bagi seorang ayah setelah bekerja seharian, dan juga sebagai penguat harap bagi seorang ibu yang tiap hari membersamai kehidupan sang buah hati tersebut.

Agar lebih bermakna, seorang anak tentu haruslah memiliki pendampingan atas pendidikan yang memadai. Tak kurang dan tak lebih sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Dalam setiap fase ada pola pendidikan yang berbeda antar masa. Sehingga sebagai orang tua tentu sudah seharusnya mengenal jenjang pendidikan tersebut dari masa ke masa.

Banyak orang mengartikan bahwa baiknya anak dimulai dari baiknya pola orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Sebab di masa anak banyak hal yang ditiru dan diambil dari orangtuanya. Maka sudah merupakan tugas bagi orangtua untuk menyajikan pengasuhan yang terbaik dan bahkan lebih baik dibandingkan saat orangtua tersebut menjadi anak dari orangtua mereka masing-masing.

Di masa anak-anak pola yang berkembang adalah pola hubungan individual antara anak dan orangtua yang lebih kuat peranannya, disana terdapat upaya saling belajar. Orangtua mempelajari karakter anaknya yang akan membentuk pribadinya, sedangkan sang anak belajar dari orangtua segala hal yang sekiranya ia butuhkan dalam kehidupannya. Maka tak heran bila Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha pernah menggambarkan putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yakni Fathimah sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari no.3263 yakni, “Aku tidak melihat orang yang paling mirip Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wajah dan gayanya selain Fathimah.”

Fungsi Keluarga Sebagai Modal Pendidikan Utama

Jangan sampai tampak adanya kegagalan dalam fungsi keluarga yang sebenarnya, fungsi yang sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang sang anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka dalam mengambil pelajaran dari para orangtua. Dimana menurut Siti Norma dan Sudarso (Suyanto dan Narwoko, 2006:238) gagalnya keluarga terjadi karena dua faktor, pertama ialah faktor pribadi dimana suami-istri kurang menyadari akan arti dan fungsi perkawinan yang sebenarnya seperti adanya sifat egoisme, kurang adanya toleransi, kurang adanya kepercayaan satu sama lain. Serta faktor kedua yaitu faktor situasi khusus dalam keluarga seperti; kehadiran terus menerus dari salah satu orang tua baik pihak suami maupun istri, istri bekerja dan mendambakan kedudukan lebih tinggi dari suaminya, adanya beberapa keluarga lain dalam rumah tersebut, dan terakhir ialah seringnya suami atau istri meninggalkan rumah karena kesibukan di luar.

Jika demikian, maka apabila para orangtua ingin membentuk karakter dan pribadi anaknya secara berkualitas maka tentunya para orangtua tersebut memperhatikan bagaimana kepribadian yang mereka miliki. Sebab takkan mungkin seekor ayam membesarkan kucing dan takkan pernah ada seekor ular membesarkan angsa. Pendidikan yang paling mendasar ialah orangtua mendidik diri mereka sendiri. Memantaskan segala sesuatunya sebelum hal tersebut diajarkan kepada anaknya. Hal ini agar terjadi pola pendidikan yang bersifat objektif. Dan apa yang menjadi hak anak atas orangtuanya pun dapat terpenuhi dengan baik sebagaimana anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “..Dan sesungguhnya anakmu punya hak atas dirimu.” (HR.Muslim).

Sungguh sangat disayangkan bila orangtua meloloskan perannya sebagai sebaik-baik pendidik atas buah hati mereka. Hal demikian takkan pernah terulang apabila salah dalam pola pengasuhan. Jadi lelah kita dalam menempa diri untuk mendapatkan dunia dengan bekerja sepanjang hari sekuat tenaga tanpa henti, yang sejatinya itu semua ditempuh untuk sang anak tapi justru kenyataannya sang anak tak membutuhkan atau justru hal tersebut bukan saatnya bagi anak itu sendiri. Berikan waktu untuk mendidik agar jangan sampai kita menyiapkan modal dunia bagi anak tapi justru sejatinya modal dunia akhirat itu sendiri berada dalam rumah kita. Maka berikan contoh terbaik bagi anak anda dan belajarlah bagaimana cara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendidik buah hatinya.

Mari menjadi orangtua yang benar dalam mendidik anak, membentuk kepribadian anak dengan baik, tidak menanamkan kedzhaliman dalam diri anak dan meminimalisir kekeliruan dalam pola pengasuhan. Setiap pribadi manusia adalah sosok yang unik, berbeda tempat berbeda pula cara dalam mendidiknya namun sama dalam hal pertanggungjawabannya kepada Allah Ta’ala sebagaimana firmannya, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang ditunggui oleh para malaikat yang kasar dan keras yang tidak pernah durhaka kepada Allah dan selalu menjalankan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. At Tahrim : 6).

Langkah Jitu Cetak Anak Bermutu

Oleh karena itu setidaknya ada beberapa hal dari tulisan diatas tentang bagaimana langkah jitu untuk membentuk anak menjadi lebih bermutu bahkan dibandingkan dengan orangtuanya. Hal tersebut antara lain:

Pertama, Ajarkan anak sesuai dengan porsi usia yang mereka miliki, hal ini penting agar orangtua bisa meminimalisir efek negatif dari hasil didikan terhadap anaknya. Sebab bagi tiap anak butuh waktu untuk menerima apa yang diajarkan oleh orangtuanya, dan bagi orangtua tentu akan membutuhkan banyak alternatif dalam mendidik anaknya untuk dapat lebih baik. Paling penting dalam hal ini ialah jangan paksakan ‘pakaian’ yang dimiliki orangtua untuk dipakaikan kepada anak. Baik dalam arti sebenarnya maupun arti kiasan, tentu hal tersebut menjadi tidak layak dan pantas bukan? Sebab memang mendidik anak membutuhkan tahapan, tidak bisa tergesa-gesa. Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan kepada kita tahapan dalam menetapkan kewajiban kepada para anak dalam syariat. “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah untuk shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim)

Kedua, pupuk kesabaran berlapis-lapis. Ingat, bahwasanya tema mendidik anak tak selesai hingga anak tersebut menjadi dewasa, bahkan ketika anak sudah menikah pun, orangtua masih punya tugas mseki tidak banyak yakni menjadikan anak yang telah menjadi orangtua tersebut pandai untuk mendidik anak mereka. Dengan kata lain orangtua masih punya bagian untuk turun tangan mendidik cucu mereka. Jika seandainya kesabaran tak dimiliki tentu umpatan dan caci akan menghiasi proses pendidikan. Sehingga anak tidak dibesarkan dengan pujian yang membesarkan jiwanya tapi terdidik dengan cacian yang mengkerdilkan jiwa mereka. Jika hal tersebut terjadi maka musibahlah yang akan ditemui.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

Ketiga, jangan pernah bosan untuk belajar. Perlu diketahui bersama bahwa matangnya pola pikir akan mempengaruhi baiknya pola pengasuhan. Dengan demikian semakin banyak belajar maka akan semakin mudah orangtua untuk memetakan potensi keunikan yang tentunya dimiliki tiap anak. Terlebih jika anak yang diinginkan dalam jumlah yang banyak, semakin belajar akan semakin mudah mengatur pola pengasuhan lebih baik lagi. Oleh karena itu bagi para orangtua hendaknya mereka luangkan waktu untuk setidaknya membaca atau menggali banyak informasi dari mereka yang ahli dalam pendidikan anak, sebab dengan banyaknya membaca terlebih lagi dengan berbagi pada orangtua lainnya akan menjadikan mental pengasuhan dan strategi pendidikan memiliki ragam metodologi.

Keempat, jangan segan meminta bimbingan orangtua. Hal ini sangat penting sebab mereka dengan sedikit atau banyaknya hal yang tidak kita sukai selama ini punya andil dalam membentuk kepribadian kita hari ini. Dengan adanya bimbingan orangtua bukan sekedar arahan yang bisa kita bicarakan dengan mereka tapi hal lain yang lebih penting ialah bicarakan soal strategi dan bentuklah sinergi pola pengasuhan secara bersama. Ingat, acapkali anak menceritakan ketidaksukaannya pada orangtua justru kepada nenek dan kakek mereka. Seandainya hal tersebut bisa dijadikan akses bagi orangtua untuk menanamkan kebaikan dan adanya proses sinergi tadi kelak nenek dan kakek bisa diarahkan justru untuk turut serta memberikan opini positif kepada anak. Hal ini disebabkan telah adanya komunikasi yang terjalin antara kita dengan orangtua. Jangan pernah menoloak, sombong apalagi congkak apakah itu kepada orangtua maupun mertua kita sendiri.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni surga? Setiap orang yang lemah lagi dianggap hina, bila ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya. Maukah kalian aku kabarkan tentang penghuni neraka? Setiap orang yang congkak, dungu lagi sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima sekaligus terakhir dan tak kalah pentingnya ialah pilih lingkungan bergaul anak kita. Sebab tak jarang energi negatif yang dimiliki oleh seorang anak justru datang dari luar rumah. “Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seseorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapat bau wangi darinya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Sehingga menurut George Herbert Mead (Sunarto, 2004:24) membagi 3 jenjang dalam proses sosialisasi dan tumbuh kembang seorang anak, dua diantaranya yaitu:

  1. Play Stage, anak mulai belajar mengambil peran (role taking) atau menirukan peran orang yang berada di sekitarnya, namun belum memahami sepenuhnya isi peran-peran yang ditirukan.
  2. Game Stage, anak tidak hanya mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

Bukan hal yang mudah, mempersiapkan anak untuk lingkungan dari rumah karena ini menyangkut tentang keseluruhan proses kita mendidik anak. Apa yang selama ini kita katakan padanya tentang nilai-nilai kehidupan juga sangat memengaruhi anak agar tetap setia pada yang benar, meski ia berada di lingkungan yang salah. Cara kita menyampaikan pun jangan seperti sedang menggurui. Sampaikan nasehat kita melalui obrolan yang santai, lalu beri contoh bagaimana kita dulu atau mungkin orang yang kita kenal dalam mengambil keputusan, dan apa resikonya atas keputusan yang diambil tersebut. Anak pun diberi kesempatan untuk terbiasa mengambil keputusan dan merasakan akibat dari keputusan tersebut. Jadi, kelak ia akan menimbang resiko sebelum melakukan sesuatu. Hal ini penting karena kita tidak bisa selalu ada bagi anak di sepanjang hidupnya. (Setyawan, 2013: 27-28)

Demikianlah lima hal dan tentunya hal tersebut masih dapat didiskusikan dalam kesempatan dan tempat yang lebih luas nantinya. Namun, secara garis besar untuk menjadikan anak bermutu ialah biarkan diri anda memegang peran-peran usia krusial tumbuh kembang anak. Jika kita sudah mampu menguasai dan menjalankan strategi pendidikan anak dengan baik melalui keyakinan atas kemampuan yang kita miliki, maka Insya Allah predikat anak bermutu sudah tak perlu ragu.

Semoga apa yang dituliskan disini bermanfaat bagi kita semua, “Ya Rabb kami, berilah untuk kami dari istri dan anak-anak kami penyejuk pandangan mata dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan : 74). Wallahul Muwaffiq.

Daftar Bacaan:

Damanik, Fritz, Seribu Pena Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010.

Setyawan, Angga, @Anak Juga Manusia, Jakarta: Penerbit Noura Books, 2013

Suyanto, Bagong, dan J. Dwi Narwoko, Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta: Kencana, 2006.

Syamsudin, Zaenal Abidin bin, Untukmu Anak Shalih, Jakarta: Rumah Penerbit Al Manar, 2009.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Jadikan Anakmu Bermutu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s