Berlarilah Dari Popularitas

Gambari diambil dari: onmilawaukee.com

Gambari diambil dari: onmilawaukee.com

Al Hasan berkata bahwa ketika mereka sedang berada di Kufah, Abdullah bin Al Mubarak sedang membacakan catatan kitab manasik kepada Al Hasan (yang telah dicatat dari hasil pengajian kepada gurunya tersebut). Beliau tiba-tiba berhenti ketika sampai pada kalimat: “Abdullah yang mengatakan hal ini sehingga kami meriwayatkan dari beliau.” Lantas Ibnul Mubarak berkata: “Siapakah yang menulis kalimat ini dan mengaku berasal dari perkataanku?” Al Hasan berkata: “Penulisnya adalah orang yang menulis kalimat tersebut.” Maka Ibnul Mubarak terus berusaha untuk menghapus tulisan itu dengan tangannya sampai akhirnya hilang. Setelah itu beliau (Ibnul Mubarak) berkata: “Siapakah sebenarnya aku ini sehingga perkataannya sampai diabadikan?” (Shifatush Shafwah IV/135).

Popularitas sebuah nama yang sungguh sangat umum untuk didengarkan, pembicaraan tentang masalah ini yang takkan pernah habis, dan orang-orang yang silih berganti berjuang menegakkan namanya diatas panggung popularitas. Jauh dan sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh Ibnul Mubarak, seorang Imam Besar dari para Imam, hampir beberapa periwayat hadist unggulan mengambil hadist dari dirinya. Keilmuannya tak diragukan lagi, kapasitasnya tak pernah disangsikan baik kawan maupun lawan. Ia ( Ibnul Mubarak) memang panutan dan seorang jempolan.

Sungguh sangat berbeda dengan kondisi saat ini, sebagian orang akan merasa hidupnya tenang jika mengejar sebuah nama untuk sekedar ketenaran dan popularitas. Lembaran hidupnya tak terlepas dari orientasi ambisi agar semua orang dapat mengenal dirinya. Semua dirupakan sedemikian cara, sedemikian indah, sebaik mungkin, hanya untuk meraih perhatian dan dikenal oleh banyak orang.

Terlebih setelah ada tujuan yang ingin dicapai dan diharapkan, seorang akan berusaha mati-matian untuk mengejarnya sepenuh tenaga. Event penuh nuansa pamer, nuansa kepalsuan, dan nuansa yang sangat dipaksakan demi sebuah nama popularitas. Berharap banyak orang yang mengenalnya, berharap banyak khalayak ramai akan menyebut namanya, berharap agar disetiap tempat namanya berada diseluruh bagian.

Kesadaran tak pernah dirasakan, karena lebih mendedikasikan seluruh jiwa raga tuk nilai dan orientasi di mata manusia, di mata penduduk bumi merasakan ingin dikenal dan terkenal sepanjang masa padahal hanya sedikit jasa dan manfaat yang diberikan.

Aneh memang tapi banyak yang seperti itu. Pencari popularitas merasa bahwa ia telah melakukian kontribusi maksimal dalam kehidupan orang lain dengan banyak manfaat dan jasa yang telah dioptimalkan. Namun semua itu hanyalah ia cari dengan harapan popularitas bagi diri. Agar banyak orang yang menilai bahwa ia memang pilihan yang pantas. Bukan soal apakah ia menggunakan cara yang halal atau yang haram, diatas kebenaran ataukah kebathilan, memiliki kebaikan nantinya atau kesalahan yang fatal. bagi seorang yang menginginkan popularitas tentulah ia hanya akan mengejar suatu cita-cita luhur dan mulia bagi pribadinya yaitu tak pelak lagi orientasi kehidupan yang menyenangkan. Itulah simbol dari kemenangan popularitas yang disalah gunakan.

Kehidupan para shahabat ridwanallohu ‘alayhim jami’an sangat bertolak-belakang dengan apa yang terjadi saat ini. Kehidupan mereka ridwanallohu ‘alayhim jami’an tak ada satu pun yang menginginkan nilai popularitas berlebih bagi dirinya. Karena mereka mengetahui dan memahami bahwa masuk kedalam lubang popularitas itu berarti masuk ke dalam cengkraman fitnah. Begitupun dengan para tabi’in dan tabiut-tabiin rahimahullah.

Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam berkata ditengah para sahabat-sahabatnya, disana beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan ada seorang tabi’in yang mulia dimana jika diantara para sahabat bertemu dengan seorang tabi’in tersebut hendaklah ia meminta didoakan olehnya.

Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda tentang nama tabi’in itu, “Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi’in terbaik yang bernama Uwais. Dia mempunyai seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan do’anya. Dia mempunyai sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia (untuk berdo’a), niscaya diaakan memintakan ampun untuk kalian.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah seorang Uwais Al Qarni, seorang tabi’in yang mulia namun ia sama sekali tidak dikenal oleh para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, namun apabila siapa saja bertemu dengan dirinya maka hendaklah meminta didoakan olehnya. Hal ini membuat seorang Umar bin Khaththab jika bepergian ke negeri Yaman bertanya kepada setiap orang apakah mengenal Uwais Al Qarni atau Uwais bin Amir.

Suatu ketika Umar bertemu dengan seseorang yang ternyata (dia itu adalah) Uwais bin Amir. Umar bertanya kepadanya, “Apakah kamu yang bernama Uwais bin Amir?” Orang itu menjawab, “Betul.”

Umar bertanya lagi, “Apakah kamu terkena penyakit kusta dan bisa sembuh kecuali ada sebesar uang dirham yang tidak tersembuhkan?” Orang itu menjawab, “Ya.” Umar bertanya lagi, “Apakah kamu mempunyai seorang ibu?” Orang itu menjawab, “Punya.”

Kemudian Umar berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah berkata, ‘Akan ada di antara kalian seseorang bernama Uwais bin Amir yang tinggal di pelosok Yaman dari Murad, Kemudian dari Qaran. Dia mempunyai bekas-bekas penyakit kusta dan bisa hilang bekas-bekas tersebut kecuali sebesar uang dirham yang tidak tersembuhkan. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya itu. Kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Kalau kamu bisa mengupayakan agar dia memintakan ampun untuk kalian, lakukanlah!’ Oleh karena itu, mohonkan ampunan untukku dan untuk beliau.”

Kemudian Umar bertanya kepadanya, “Hendak ke mana kamu?” Orang itu menjawab, “Ke Kufah.” Umar berkata, “Kalau begitu, saya akan angkat kamu menjadi pegawai di sana.” Orang itu menjawab, “Saya lebih suka menjadi orang-orang rendahan saja.”

Perhatikan seorang tabi’in yang disebut oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, namanya sudah sangat populer dikalangan sahabat yang mendengar sabda demikian dari Rasulullah. Hingga Umar bin Khaththab mencari sosoknya. Bahkan hendaklah seseorang yang menjumpainya meminta didoakan. Namun diakhir jawaban seorang yang popularitasnya dihadapan para sahabat ridwanallohu ‘alayhim jami’an hanya menjawab, “Saya lebih suka menjadi orang-orang rendahan saja.”

Lantas dimanakah letak posisi orang yang mengejar popularitas saat ini? Mengejar orientasi nilai dimata manusia agar menghadirkan decak kagum tersendiri. Ataukah mereka menjadi pionir kebathilan baru dengan mengusung paradigma yang diperbaharui?

Maka berlarilah dari popularitas!, popularitas yang dimunculkan oleh diri sendiri, popularitas yang akan mengundang fitnah, dan popularitas yang akan memperpanjang usia tinggal seseorang di Neraka. Segala sesuatu akan dimintai pertanggung-jawaban, tak terkecuali popularitas nisbi yang melenakan..

Sungguh berbahagialah mereka yang tidak populer dikalangan manusia namun mereka memiliki jutaan manfaat yang sungguh sangat tak pantas bagi dirinya untuk diangkat ke permukaan. Sebab hal itu akan mengurangi perbekalan dan menjauhakn diri dari semangat melakukan amalan!

Wallahul walliyut taufiq ‘alaa aqwamith bii thariiq

P.S: Tulisan ini saya temukan kembali dalam lampiran file tulisan lama saya, awalnya tulisan ini saya kirim ke majalah muslim ElFata, namun karena tak dibuat maka saya posting kembali di webblog sendiri saja. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Berlarilah Dari Popularitas

      • sehat, abinya hanina, jadi dosen ga nih?? alhamdulillah Alloh masih belum kasih titipan ke ana pak save no ane nih 081294243415, oia orang tua antum sehat ? salam buat bapak ibu, insya ALLOH ada waktu ana main ke sana

      • alhamdulillah, ndaklah. memilih jadi guru aja sebagai peletak pasir untuk bangunan besar. semoga Allah mudahkan. berapa nomor antum? ada whatsapp atau BBM?

    • sip, rekamannya juga udah ada di youtube. sip di save Insya Allah bro. lowongan guru yah? hehe abdul rohim sekarang ngajar matematika disini. klo mau jadi guru di bogor ada bro namanya minhajus shahabah. sedang berkembang juga sekarang di sekitar ciapus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s