Resensi Buku; Ayah.. Kisah Hidup Buya Hamka

IMG_20170328_171401Membaca soal Hamka bak menimba air dari sumur yang dalam, kita akan dihadapkan bahwa prosesnya tidak mudah seperti mengambil air diatas ember dengan gayung. Mengingat, apa yang dilakukan seorang lelaki dengan penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam tertua di dunia bukanlah perkara yang mudah, lika-liku hidupnya, ketulusan hati, keberanian sikap, hingga ketabahan sebagai panutan umat adalah kesmuanya teladan yang ditinggalkan olehnya pada anak-anak negeri ini selain dari petuah bijak yang hingga kini masih bisa kita simak dengan seksama atas kebaikan banyak pihak yang telah menjadikannya dalam format yang mudah untuk didapat, baik melalui internet atau rekaman lain yang masih tersisa dan bisa dinikmati hingga kini.

Kerja-kerja peradaban ialah kerja yang tak pernah surut dari apa yang direkam atas jejak yang pernah dijalankan. Hamka pernah menulis tentang ayahnya yang ia beri judul Ayah sebagai bentuk baktinya pada sosok ayah tercinta, Karim Amrullah. Maka kini peradaban tidak berhenti dan menuliskan kembali soal Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang diceritakan oleh anaknya dengan apik yakni, Irfan Hamka dalam judul Ayah.. Kisah Buya Hamka.

Pada buku yang terbit pertamakali Mei 2013 oleh Republika ini, Irfan Hamka sebagai anak kelimanya menuliskan pribadi ayahnya sebagai tokoh umat. Biografi yang ditulis dengan mengalir dan merekam dengan baik dalam bahasa semi novel ini, semakin mendekatkan kita pada tokoh yang wafat pada Juli 1981 ini. Buku ini, sungguh layak dibaca oleh semua pihak, khususnya kaum muslimin, dan lebih tepatnya bagi para pendidik. Sebab yang dituliskan seorang anak ialah lebih banyak pesan moral dan pengajaran tentang kehidupan dalam kenyataan keseharian.

Buku yang diberikan pengantar oleh Taufik Ismail ini atas sepuluh bagian, dan hampir seluruhnya mengajak kita selain mengenal sosok Hamka juga mengajak lawatan sejarah ke berbagai tempat yang Hamka kunjungi disertai keadaannya pada masa itu. Sedemikianlah guna sejarah, ia tidak hanya bersifat instruktif, edukatif, dan inspratif, tapi juga bernilai rekreatif. Buku ini mewakili seluruh guna sejarah yang ada tadi.

Pada permulaan, penulis menuturkan tentang “Sejenak mengenang nasihat ayah” sebagai pembuka dari seluruh tulisan di bab lainnya, yang bertutur tentang 3 keadaan dimana sang ayah tidak hanya memberi nasihat dengan lisan tapi juga dengan perbuatan. Mulai dari suami-istri serta rumah tangga yang dijalani, tentang seseorang dengan tetangganya, dan kisah pribadi penulis saat telitinya sang ayah membedakan mana kebohongan dan bukan.

Pada bab yang lain juga diuraikan bagaimana Hamka mendidik keluarganya pada Kisah Tukang Susu dan Pisang, hingga bagaimana Hamka ditahan dalam penjara lalu memafaatkannya menuliskan Tafsir Al Azhar yang fenomenal.

Buku ini, sebagaimana buku lainnya, pun juga memiliki kekurangan walaupun kekurangan tersebut jauh dibanding dengan lebihnya. Mungkin karena memang sudut pandang yang dbangun ialah bagaimana seorang anak melihat sosok ayahnya, sehingga tidak membersamai kehidupan Buya Hamka pada sisi yang lainnya. Tapi membaca buku ini adalah soal teladan yang sudah perlahan hilang dari generasi sekarang. Buku inilah secercah jawaban ditengah krisis keteladanan yang ada hari ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s